Skip to content

MENILAI HUKUMAN MATI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

April 30, 2009

Pro kontra tentang adanya hukuman mati di Indonesia akhir-akhir ini banyak menghiasi dan diperbincangkan pada media kita. Sebagian pakar hukum menganggap bahwa hukuman mati haruslah tetap ada karena setidaknya dapat menjadi suatu ancaman bagi orang-orang yang hendak melakukan kejahatan luar biasa. Bagi mereka, hukuman mati tidaklah bertentangan dengan HAM ataupun konstitusi negara Indonesia. Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa hukuman mati haruslah dihapuskan dari Indonesia karena hukuman mati merupakan salah satu bentuk dari pelanggaran HAM terhadap seseorang. Mereka beranggapan bahwa apapun alasannya, negara sebagai sebuah sistem yang menghimpun rakyatnya tidak boleh melenyapkan nyawa warga negaranya walaupun dia telah melakukan pembunuhan serta perbuatan kejam lainnya yang sangat luar biasa. Mereka menambahkan bahwa kewajiban negara adalah melindungi warga negaranya bukan malah melenyapkan nyawa dan bagi orang-orang yang telah melakukan pembunuhan, meyebabkan kekacauan serta tindakan kejahatan luar biasa yang lainnya hukuman maksimalnya adalah dipenjara seumur hidup, bukan hukuman mati.

Melihat dua pendapat yang saling bertentangan tersebut nampaknya tidak akan pernah menemukan titik persinggahan yang sama karena menurut hemat saya pembicaraan tersebut tidak di awali oleh hal yang paling mendasar. Pembicaraan selalu langsung terfokus pada apakah hukuman mati menyalahi HAM dan konstitusi atau tidak. Tulisan ini tidak akan membedah/ menilai hukuman mati dari sisi tinjauan hukum positif di Indonesia, namun akan memberikan perspektif lain yang selama ini sering diabaikan.

Pertama saya ingin berangkat dari sebuah pemikiran yang paling mendasar yakni bahwa manusia dan makhluk hidup serta apa yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan Alloh ‘Azza wa Jalla dan oleh karenanya Alloh sajalah yang berhak untuk berkuasa dan bertindak terhadap ciptaan-ciptaan-Nya. Oleh karena itu, pelanggaran terhadap hak Alloh untuk bertindak terhadap ciptaan-ciptaan-Nya adalah merupakan suatu bentuk kedzaliman yang teramat nyata. Dalam hal ini Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

Artinya: Dan Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Fath: 14).

Inilah suatu pondasi awal yang harus diketahui dan dipegang dengan erat. Ini juga yang akan menjadi titik perbedaan yang serius antara orang beriman dengan orang kafir (atheis).

Selanjutnya, setelah kita memahami pondasi awal tentang Dzat yang mencipta makhluknya yakni Alloh ‘Azza wa Jalla dan hanya Dia saja yang berhak bertindak/ berbuat terhadap ciptaan-Nya maka selanjutnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Alloh jualah yang dapat mencipta dan dapat (berhak) mematikan makhluknya, dengan kata lain bahwa ketika seseorang membunuh makhluk Alloh dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh Alloh maka sesungguhnya dia adalah orang dzolim dan akan mendapat hukuman dari Alloh atas kedzolimannya itu. Adapun maksud dari jalan yang tidak dibenarkan oleh Alloh adalah seperti pencurian/ perampokan yang diakhiri dengan pembunuhan, pembunuhan karena alasan tertentu seperti dendam, persaingan bisnis, dsb. Di samping itu semua, ada pembunuhan yang benar dan sesuai dengan ketentuan Alloh yakni melalui jihad fii sabilillah untuk mempertahankan diri dari serangan musuh atau menegakkan dien Alloh di muka bumi. Dalam hal ini, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman:

Artinya: Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS.Al-Baqoroh: 191).

Artinya: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Alloh. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Baqoroh: 193).

Orang-orang yang telah merampas nyawa orang lain dengan jalan yang tidak benar, maka bagi mereka akan dikenai keputusan (hukum) Alloh yang terdapat pada Qur’an sebagai wahyu dari Alloh dan sunnah dari Rosululloh sebagai penyampai risalah Alloh itu. Dalam hal ini, Alloh memberikan dua opsi bagi orang yang telah terbukti secara meyakinkan menghilangkan nyawa orang lain dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dua opsi itu tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 178:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rob kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

Opsi pertama adalah di qishash (nyawa ganti nyawa) sedangkan opsi yang kedua adalah pemaafan dengan membayar diyat (ganti rugi). Ini semua akan ditentukan oleh keluarga korban. Di luar dua hal itu, islam tidak mengenal bentuk hukuman yang lain (seperti penjara sekian tahun ataupun penjara seumur hidup) untuk kasus pembunuhan. Perlu ditekankan di sini bahwa hukum qishash adalah hukum yang ditetapkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla bukan oleh ummat islam. Oleh karena Alloh yang membuat dan memerintahkan kepada orang beriman untuk menjalankannya, maka wajib hukumnya bagi orang yang beriman untuk melaksanakan perintah Alloh tersebut. Adapun alasan bahwa melakukan hukum bunuh (qishash) adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap hak-hak dasar kemanusiaan, maka alasan ini tidak akan dapat diterima oleh akal sehat. Yang menjadi pertanyaan adalah pertama, siapakah yang memberikan hak-hak dasar kemanusiaan itu kepada manusia? Alloh-kah atau manusia itu sendiri? Kalau jawabannya adalah Alloh, maka pahami juga bahwa qishash adalah juga perintah Alloh dan merupakan hak Alloh untuk berbuat kepada makhluknya sebagaimana telah sedikit diurai di awal tulisan ini. Pertanyaan kedua, jika dikatakan bahwa hukum bunuh (qishash) melanggar hak kemanusiaan maka bagaimana halnya dengan pelanggaran hak kemanusiaan yang dilakukan oleh tersangka terhadap korban? Pertanyaan ketiga, jika hukum bunuh dikatakan melanggar hak dasar kemanusiaan, maka bagaimana halnya dengan pelanggaran terhadap hak Alloh atas makhluknya yakni diabaikannya/ dicelanya hukum qishash yang merupakan ketetapan dari Alloh?

Sungguh juga tidak masuk akal ketika kita mengatakan bahwa menghidupkan dan mematikan nyawa seseorang adalah hak Alloh, namun ketika Alloh memerintahkan qishash sebagai ketetapan hukum bagi manusia di dunia kemudian kita menolak dengan berbagai dalih, dengan berbagai aturan-aturan yang disembah (diberhalakan) dan seolah baik padahal suatu keburukan. Renungilah firman Alloh berikut ini dan jawablah dalam hati kita masing-masing:

Artinya: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Alloh, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Alloh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (49) Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin ?(50)” (QS.Al-Ma’idah: 49-50).

Qishash sebenarnya tidak hanya terdapat pada hukum Alloh yang termaktub dalam Al-Qur’an saja, namun juga terdapat pada kitab-kitab sebelum Al-Qur’an yang Alloh turunkan kepada para nabi dan rosul sebelum Muhammad shollolohu ‘alaihi wa sallam. Qur’an menegaskan hal ini dalam salah satu ayatnya yakni surat Al-Ma’idah ayat 45:

Artinya: “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Dalam Al-kitab perjanjian lama terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia Jakarta (1981) pada kitab Keluaran 21:23-25 dikatakan: (selengkapnya baca mulai ayat 12-36)

“Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.”

Dalam kitab Imamat 24:17-21 tertulis:

“Juga apabila seseorang membunuh seorang manusia, pastilah ia dihukum mati. Tetapi siapa yang memukul mati seekor ternak, harus membayar gantinya, seekor ganti seekor. Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya. Siapa yang memukul mati seekor ternak, ia harus membayar gantinya, tetapi siapa yang membunuh seorang manusia, ia harus dihukum mati.”

Bahkan menurut al-kitab, seorang yang bersaksi dustapun harus dihukum mati sebagaimana tersebut dalam kitab Ulangan 19: 18-21 sebagai berikut:

“Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mati ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.”

Oleh karenanya jelas bahwa hukum qishash bukanlah hukum baru yang diada-adakan oleh ummat islam atau para ulama’ kaum muslimin, namun merupakan hukum Alloh yang diturunkan kepada para nabi dan rosul untuk diterapkan atas manusia di dunia ini sebagai ciptaan dan hamba Alloh ‘Azza wa Jalla. Bahwa pada saat ini yang dengan teguh, jujur dan istiqomah untuk memperjuangkan hukum Alloh seperti qishash untuk diterapkan dalam kehidupan adalah hanya ummat islam saja, maka tentu ini adalah suatu hal yang harus diakui dan dicatat dengan baik. Ini tentunya berangkat dari kesadaran ummat islam bahwa hukum Alloh sajalah yang berhak dan wajib diterapkan untuk mengatur manusia karena Alloh juga menyebabkan tentang tujuan dari qishsash sebagai slah satu bagian dari hukum Alloh sebagaimana tertera dalam surat Al-Baqoroh ayat 179:

Artinya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

Prof.Dr.Hamka menulis dalam “Tafsir Al-Azhar” Juz ke 2 halaman 100 dalam menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

“Artinya, dengan adanya hukum qishash, nyawa bayar nyawa, sebagai hukum tingkat pertama, terjaminlah kehidupan masyarakat. Orang yang akan membunuh berfikir terlebih dahulu sebab dia akan dibunuh. Lantaran itu hiduplah orang dengan aman dan damai, dan dapatlah dibendung kekacauan dalam masyarakat karena yang kuat berlantas angan kepada yang lemah.

Tetapi kalau si pembunuh hanya dihukum misalnya 15 tahun, dan apabila datang hari besar, dan mungkin pula hukumannya dipotong, orang-orang yang telah rusak akhlaknya akan merasa mudah saja membunuh sesama manusia. Bahkan ada penjahat yang lebih senang masuk keluar penjara, ada yang memberi gelar bahwa penjara itu “hotel prodeo” atau pondokan gratis dan sebagainya.”

Mengenai orang-orang yang berfikir bahwa hukum bunuh (qishash) supaya ditiadakan, HAMKA berkomentar dalam tafsirnya sebagai berikut:

“Sungguhpun demikian selalu juga ada terdengar ahli-ahli ilmu masyarakat yang meminta supaya hukum bunuh itu ditiadakan. Tetapi apa yang dikatakan al-Qur’an adalah lebih tepat. Lebih baik dipegang pangkal kata, yaitu hutang nyawa bayar nyawa. Adapun membunuh dengan tidak sengaja ataupun dengan sebab-sebab yang lain, itu dapatlah diserahkan kepada penyelidikan polisi, jaksa atau hakim, sehingga menjatuhkan hukum dapat dengan seadil-adilnya. Tetapi meniadakan hukum bunuh samasekali adalah suatu teori yang terlalu cayah[*], sebab ahli-ahli penyakit jiwa manusia telah membuktikan memang ada kejahatan jiwa itu yang hanya dengan hukuman matilah baru dapat dibereskan. Apatah lagi orang yang telah membunuh, menjadi amat rusak jiwanya, sehingga bila bertengkar sedikit saja, mudah saja dia mencabut belati dan hendak membunuh lagi.” (Tafsir Al-Azhar Juz ke 2 hal.100)

Inilah beberapa hal yang harus dipahami bersama mengenai hukum qishash, bahwa penerapannya di Indonesia belumlah dapat dikatakan sesuai dengan syari’at maka itu haruslah terus kita upayakan dan perjuangkan, namun meniadakannya dengan alasan apapun entah alasan melanggar HAM, atau alasan bahwa negara Indonesia bukanlah negara islam dan sebagainya perlulah kiranya kita pertanyakan kepada orang-orang yang membuat pernyataan tersebut: Apakah anda seorang muslim? Jika ya, tahukah anda dengan islam anda? Selanjutnya lebih berat manakah anda kepada hukum islam yang anda akui sebagai agama anda atau hukum yang bertentangan secara nyata dan jelas dengan agama islam yang katanya merupakan agama anda itu? Semoga Alloh menunjukkan kita kepada jalan yang benar yakni jalan islam. Amiin. Wallohu a’lam bishawab. (Solo, 2 Sya’ban 1429 H/ 4 Agustus 2008 M).

Rujukan:

Ø Al-Qur’an dan terjemahannya.

Ø Hamka, Prof.Dr. 1983. Tafsir Al-Azhar juz II. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Ø MAWI. 1981. Al-Kitab Perjanjian Lama. Jakarta: Lembaga Al-kitab Indonesia (LAI).


[*] Lengah, tidak awas, tidak teliti.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: