Skip to content

INDAHNYA ISLAM MENGATUR MASALAH PERBURUHAN

April 30, 2009
tags:

Bismillahirrohmanirrohiim

INDAHNYA ISLAM MENGATUR MASALAH PERBURUHAN[1]

Oleh: Muhammad Nasir

Persoalan antara buruh dan majikan seringkali kita dengar dan saksikan dikehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah unjuk rasa para buruh yang meminta kenaikan upah dan tunjangan hidup, adapula yang meminta supaya pihak perusahaan/ pabrik (majikan) berlaku adil dan tidak diskriminatif terhadap para buruh/ pekerja, ada pula yang meminta supaya perusahaan segera membayar gaji yang beberapa waktu sudah tidak mereka terima bahkan sampai pada persoalan PHK yang seringkali menjadi pemicu terjadinya perselisihan diantara kedua belah pihak. Aksi yang dilakukanpun beragam, ada yang sekedar melakukan unjuk rasa (aksi) damai, mogok kerja, mogok makan bahkan hingga menyebabkan terjadinya bentrok fisik antara pihak buruh dengan pihak perusahaan/ pabrik (majikan).

Kalau kita coba mengidentifikasi persoalan utama yang terjadi hingga menyebabkan perselisihan antara para buruh dan majikan maka kita akan menemukan beberapa persoalan diantaranya terjadinya ketidak adilan, keinginan untuk untung sepihak, ketidak patuhan terhadap perjanjian yang telah dibuat diantara kedua belah pihak dan lain sebagainya. Nah, utnuk mencoba mengatasi persoalan yang tampak rumit ini maka marilah kita melihat bagaimana islam mengatur hubungan antara buruh dan majikan, berawal dari sebuah keyakinan bahwa islam adalah bukan sekedar ritual yang dilakukan oleh seorang muslim kepada Robbnya, namun lebih jauh lagi bahwa islam juga mengatur bagaimana cara mengatur kehidupan manusia pada berbagai aspek bidang kehidupan.

Diantara ajaran islam yang mengatur tentang masalah pekerja adalah firman Alloh ta’ala:

Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah :105).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa setiap pekerjaan akan dibalas dengan setimpal sebagaimana hal yang telah dikerjakan. Artinya, bahwa untuk setiap pekerja akan mendapatkan suatu imbalan setimpal dengan yang telah dia kerjakan. Jadi, perbedaan perlakuan atau pemberian gaji/ upah lebih dilihat pada tingkat pekerjaan yang dilakukan bukan kepada pembedaan status apakah pekerja itu adalah tenaga honorer yang dibayar dengan upah tertentu atau pekerja tetap yang dibayar dengan gaji bulanan.

Lebih lanjut lagi kita dapat melihat bagaimana islam begitu memperhatikan masalah pembayaran upah atau gaji kepada para buruh. Hal ini dapat kita lihat dari sabda Rosululloh SAW:

“Berikanlah gaji kepada pekerja sebelum kering keringatnya, dan beritahukan ketentuan gajinya, terhadap apa yang dikerjakan.” (HR Baihaqi)

Lihatlah, betapa mulia islam mengatur dalam perkara ini. Prinsip paling utama yang ditekankan oleh islam adalah kejelasan perjanjian (aqad) antara buruh dan majikan, keadilan, serta kejujuran dan konsekwen dalam melaksanakan aqad yang telah disepakati bersama antara pihak buruh dan majikan. Dengan kejelasan aqad, maka akan tercipta suatu keadilan antara kedua belah pihak baik buruh maupun majikan. Aqad yang telah dibuat dan disepakati oleh kedua belah pihak harus dilaksanakan dengan baik dan jujur tanpa berlaku curang antara satu pihak dengan pihak yang lainnya. Oleh karenanya pelanggaran terhadap aqad yang telah disepakati bersama adalah suatu bentuk kedzaliman. Dalam perkara ini, Rosululloh SAW telah bersabda:

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda: Allah telah berfirman: Ada tiga jenis manusia dimana Aku adalah musuh mereka nanti di hari kiamat. Pertama, adalah orang yang membuat komitmen akan memberi atas nama-Ku (bersumpah dengan nama-Ku), kemudian ia tidak memenuhinya. Kedua, orang yang menjual seorang manusia bebas (bukan budak), lalu memakan uangnya. Ketiga, adalah orang yang menyewa seorang upahan dan mempekerjakan dengan penuh, tetapi tidak membayar upahnya.” (HR Bukhori).

Islam juga mengatur suatu hal yang teramat indah terkait masalah perburuhan sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rosululloh SAW:

“Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Mereka (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, Allah menempatkan mereka di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya maka harus diberinya makan seperti apa yang dimakannya (sendiri) dan memberi pakaian seperti apa yang dipakainya (sendiri); dan tidak membebankan pada mereka dengan tugas yang sangat berat, dan jika kamu membebankannya dengan tugas seperti itu, maka hendaklah membantu mereka (mengerjakannya).” (HR. Muslim).

Kemana kita akan mencari sebuah sistem pengaturan yang seindah ini. Islam memerintahkan kepada para majikan (pemilik pabrik atau perusahaan) supaya menempatkan para buruh selayaknya saudara sendiri bukan seperti budak yang berhak untuk dimanfaatkan dan diperlakukan dengan seenaknya sendiri. Melihat pengaturan semacam ini maka tak heran jika kita melihat bagaimana harmonisnya hubungan antara buruh dan majikan apabila sistem semacam ini diterapkan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabatnya, sebuah realita yang sangat sulit kita dapatkan pada sistem pengaturan yang lain terlebih pada sisitem yang kapitalis, materialis dan sebagainya.

Dengan melihat beberapa dasar dalam islam tentang masalah perburuhan kita dapat menarik sebuah kesimpulan yang berharga yakni bahwa islam sangat menjunjung tinggi nilai keadilan dan kejujuran (transparansi) dengan dibuatnya aqad (perjanjian antara buruh dan majikan dalam hal yang terkait masalah hubungan kerja antara keduanya). Selain itu islam memiliki paradigma tersendiri dalam menempatkan buruh dan majikan yang sangat berlainan dengan sistem kebanyakan. Islam menempatkan keduanya layaknya sebagai saudara, dimana satu dengan lainnya tidak saling memberatkan, tidak saling berlaku curang dan dzalim, bahkan sampai pada tingkatan saling membantu dan memberi makan dan pakaian sebagaimana yang dipakai oleh sang majikan. Islam telah mengatur hak dan kewajiban antara majikan dan buruh sehingga pada keduanya terjadi sebuah hubungan yang saling menguntungkan dan tidak saling mendzalimi satu dengan lainnya. Oleh karenanya, islam tidak mengenal problem perburuhan sebagaimana yang sering diperbincangkan oleh banyak kalangan. Inilah keindahan islam, lalu mengapa masih banyak manusia yang berpaling? Wallohu a’lam.


[1] Dimuat Pada Koran Mini KAMMI Solo (KOMIK) edisi 1 Mei 2008

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: